Alternatif WordPress: Kenapa Website-mu Tiba-tiba Rusak Sendiri (dan Apa yang Harus Dilakukan)

Website WordPress-mu rusak sendiri karena ia adalah mesin berisi banyak komponen —tema, plugin, hosting— yang diperbarui terpisah dan lama-lama berhenti nyambung satu sama lain; alternatifnya adalah website tanpa plugin yang perlu diperbarui.

Don Beto punya toko besi di Aguascalientes sejak dua puluh dua tahun lalu. Website-nya baru enam tahun. Suatu hari Senin, putrinya mengirimkan tangkapan layar: di tempat yang tadinya ada logo, jam buka, dan nomor telepon, sekarang muncul tulisan “Error saat membuat koneksi ke database”.

Hal pertama yang dia katakan saat menelepon saya: “saya nggak pernah utak-atik apa-apa.”

Saya tahu. Dan itulah masalahnya. WordPress —sistem yang dipakai kebanyakan website bisnis di Meksiko— bukan file yang diam di tempat: ia mesin yang dirakit dari komponen-komponen buatan orang berbeda, yang seiring waktu berhenti nyambung satu sama lain. Kalau kamu sedang mencari alternatif WordPress karena website-mu rusak sendiri, ini yang sebenarnya terjadi, dan apa saja pilihanmu yang sesungguhnya.

Kenapa Website Saya Rusak Padahal Tidak Ada yang Mengutak-atiknya?

Website WordPress-mu bukan sebuah file. Ia mesin dengan komponen-komponen dari berbagai pembuat yang dipasang di atasnya.

Ada WordPress-nya sendiri. Ada tema, yaitu desainnya, dibuat oleh orang lain. Dan ada plugin-plugin: plugin formulir, plugin galeri, plugin cache, plugin peta. Setiap komponen dirawat oleh orang yang berbeda dan diperbarui menurut jadwalnya masing-masing, tanpa memberitahumu.

Ketika semuanya diperbarui tepat waktu, semuanya berjalan lancar. Tapi kalau enam tahun berlalu tanpa ada yang menyentuhnya, kamu akhirnya punya lima belas komponen dari lima belas zaman berbeda yang dipaksa bekerja sama. Website-mu bukan rusak karena kamu melakukan sesuatu. Ia rusak karena lantai di bawahnya bergeser.

Kenapa Saya Dikasih WordPress Padahal Tidak Pernah Memintanya?

Di 2019, itu keputusan yang masuk akal: kebanyakan orang yang membuat website di Meksiko memang terbiasa memakainya, lisensinya gratis, dan bisa dipakai untuk hampir semua kebutuhan.

Masalahnya bukan WordPress. Masalahnya, website itu diserahkan kepadamu seolah-olah ia lukisan yang tinggal digantung di dinding, padahal sebenarnya lebih mirip mobil bak: sangat berguna, tapi butuh servis rutin. Tidak ada yang memberitahumu, dan tidak ada lampu indikator yang menyala saat waktunya tiba.

Apa yang Pertama Kali Rusak di Website WordPress?

Berdasarkan urutan seberapa sering saya melihatnya: sebuah pembaruan, hosting, atau formulir kontak.

1. Sebuah pembaruan. Plugin memperbarui dirinya sendiri, sementara temanya masih yang dari 2019, dan keduanya berhenti nyambung. Di situlah muncul layar putih kosong atau pesan error.

2. Hosting. Server-mu naik ke versi PHP baru —bahasa pemrograman tempat WordPress berjalan— dan tema lamamu tidak “bicara” dalam versi itu. Di sini tidak ada yang salah: rumahnya berubah, dan perabotannya jadi tidak muat lagi.

3. Formulir kontak. Dan ini yang paling mahal. Website-nya terlihat sempurna, semuanya termuat… tapi pesan-pesannya sudah berbulan-bulan tidak sampai ke siapa pun. Entah plugin-nya berhenti mengirimkannya, atau pesan-pesan itu masih terus masuk ke email orang yang dulu membuatkan website-mu di 2019.

Perhatikan bedanya, karena inilah bagian yang penting. Website yang down ketahuan hari itu juga: putrimu, keponakanmu, atau pelanggan akan menghubungimu. Formulir yang rusak nyaris tidak pernah ketahuan. Telepon cuma jadi jarang berdering, dan kamu mengira bulan ini memang lagi sepi.

Di toko besi Don Beto, email tujuan formulir itu ternyata akun yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dibuka siapa pun. Tidak ada cara untuk tahu berapa banyak permintaan penawaran yang tertahan di sana, dan itulah yang paling menyakitkan.

Apa Artinya Kalau Website Saya “Diretas”?

Bukan kamu yang dipilih secara khusus: itu program otomatis yang menyisir jutaan website mencari versi lama dari plugin-plugin populer, seperti orang yang berjalan menyusuri jalan sambil mencoba-coba membuka setiap pintu. Kalau website-mu lama tidak diperbarui, cepat atau lambat ada yang akan bilang kalau website-mu diretas.

Dan gejalanya hampir tidak pernah berupa website yang down. Justru lebih halus: dari ponsel, website-mu malah mengarahkan orang ke website lain yang bukan milikmu, atau Google memasang peringatan merah, atau pihak hosting memberitahumu bahwa dari akunmu keluar ribuan email spam. Bagi bisnis, ini lebih buruk daripada website yang down: kamu terlihat buka, tapi justru mengirim orang ke tempat lain.

Kapan WordPress Justru Unggul (Serius)

Jangan pindah cuma karena ikut tren. Ada tiga situasi di mana WordPress tetap jadi jawaban yang tepat:

  • Kamu punya toko online sungguhan. Ratusan produk, varian, stok, penagihan. Itu sudah level software, dan WordPress dengan WooCommerce mengerjakannya dengan baik.
  • Kamu punya blog bertahun-tahun. Kalau dua ratus artikel sudah mendatangkan pengunjung dari Google, memindahkannya adalah proyek besar. Jangan dilakukan sembarangan.
  • Kamu sudah punya orang yang mengurusnya. Kalau ada yang menagihmu biaya bulanan, rutin memperbarui, dan merespons saat ada yang error, kamu sudah aman.

Tapi kalau website-mu cuma terdiri dari lima bagian yang menjelaskan siapa kamu, apa yang kamu jual, di mana lokasimu, dan bagaimana cara menghubungimu —kasus yang dialami hampir semua bisnis kecil— berarti kamu sedang membayar biaya servis mobil bak hanya untuk pergi ke ujung jalan.

Apa Alternatif WordPress Kalau Kamu Tidak Mau Repot Memperbarui Apa-apa?

Penjelasannya singkat: kamu mendeskripsikan bisnismu, dan keluarlah website yang sudah terbit, lengkap dengan link-nya. Tanpa plugin.

Bukan berarti plugin itu buruk. Hanya saja di sini memang tidak ada plugin: tidak ada apa pun yang memperbarui dirinya sendiri jam tiga pagi lalu paginya jadi “bertengkar” dengan komponen lain.

Don Beto menulis ini apa adanya, dengan bahasanya sendiri:

“Website untuk toko besi saya di Aguascalientes. Cantumkan jam buka, Senin sampai Sabtu jam 8 sampai jam 7, merek-merek yang saya jual, bahwa kami bikin duplikat kunci dan potong kaca sesuai ukuran, alamat lengkap dengan peta, nomor telepon saya, dan tombol WhatsApp supaya orang bisa minta penawaran harga.”

Website-nya langsung jadi lengkap dengan bagian-bagiannya, peta, dan tombol WhatsApp. Dua puluh menit kemudian, Don Beto sudah mengoreksinya sendiri: dia lupa bilang kalau tokonya juga melayani tukang ledeng dan tukang bangunan dengan harga grosir, dan kalau hari Sabtu tutup jam 3.

Sebagai penyeimbang yang jujur: server tempat website-mu berada bukan milikmu di sini, dan itu juga bukan milikmu di WordPress. Yang harus tetap jadi milikmu, di kedua sisi, adalah domain dan teks-teksmu.

Bagaimana Cara Pindah dari WordPress Tanpa Kehilangan Apa-apa?

  1. Cek dulu ke mana pesan-pesanmu selama ini terkirim. Buka website-mu seolah-olah kamu pelanggan, lalu kirim pesan ke dirimu sendiri lewat formulir. Kalau tidak sampai, kamu sudah tahu dari mana harus mulai, dan kenapa bulan ini terasa sepi.
  2. Salin teks dan foto-fotomu. Harga sudah kamu hafal di luar kepala; tapi teks “tentang kami” belum tentu. Simpan dulu di ponselmu sebelum menyentuh apa pun.
  3. Domain, urus paling akhir. Arahkan ke website baru setelah kamu benar-benar melihatnya berfungsi, bukan sebelum itu. Dan jangan matikan website lama di hari yang sama: biarkan dulu seminggu lagi, toh tidak ada ruginya.

Dua keraguan yang selalu muncul. Posisimu di Google sebagian besar melekat pada domainmu: kalau domainnya sama, kamu tidak mulai dari nol — cukup pastikan website barunya mengatakan hal yang sama, dengan kata-kata yang dicari orang (“toko besi di Aguascalientes”, “potong kaca sesuai ukuran”). Dan kalau kamu sudah tidak punya akses ke website lama karena orang yang membuatkannya tidak bisa dihubungi lagi, jangan panik: satu-satunya hal yang perlu kamu selamatkan hanyalah domainnya.

Sebelum Giliranmu Kena Senin yang Error

Kalau website-mu sudah lebih dari setahun tidak pernah dibuka siapa pun, jangan tunggu sampai suatu pagi muncul pesan aneh. Lakukan satu hal saja hari ini: buka lewat ponselmu dan kirim pesan ke dirimu sendiri lewat formulir.

Kalau pesannya sampai, kamu masih punya waktu. Kalau tidak sampai, di situlah jawabanmu.

Dan kalau kamu memang sudah malas mengecek ada pembaruan yang tertunda atau tidak, deskripsikan bisnismu ke Proyecta seperti kamu menceritakannya ke pelanggan, lalu terbitkan. Waktunya bahkan lebih singkat dibanding menelepon untuk menanyakan berapa biaya pemeriksaan website yang sudah kamu punya sekarang.