Bayar di Tempat, Transfer, atau Kartu: Mana yang Cocok untuk Bisnismu
Bayar di tempat cocok untuk barang yang kamu antar sendiri di kotamu dan bisa dijual ulang. Transfer cocok untuk nominal besar dengan pelanggan yang sudah kamu kenal. Kartu cocok untuk pesanan baru yang perlu kamu amankan sebelum mulai dikerjakan.
Mayra punya toko bunga di Los Mochis dan mengantar pesanan ke rumah pelanggan. Pada 10 Mei dia mengirim empat puluh pesanan. Tiga puluh sembilan berjalan lancar. Pesanan keempat puluh adalah rangkaian bunga seharga $900 lengkap dengan kartu ucapan, bunga yang dibeli pagi itu juga, dan ketika kurir mengetuk pintu, tidak ada orang di rumah. “Aduh, saya lagi nggak di rumah, besok saya ambil ya.” Keesokan harinya, rangkaian bunga itu sudah tidak berguna untuk siapa pun.
Yang hilang dari Mayra hari itu bukan sekadar komisi. Yang hilang adalah bunga-bunganya, waktu kurir, dan bensin untuk dua kali perjalanan. Dan semua itu terjadi karena pesanan itu dibayar di tempat saat barang diterima.
Bukan berarti bayar di tempat itu buruk. Masalahnya, Mayra memakainya untuk jenis pesanan yang salah.
Apa itu bayar di tempat dan cocok untuk siapa?
Bayar di tempat (cash on delivery) adalah ketika pelangganmu membayar setelah menerima produk, secara tunai atau lewat mesin EDC, langsung di depan pintu rumahnya. Cara ini cocok untuk bisnis yang mengantar sendiri, di kotanya sendiri, dengan barang yang masih bisa dijual ulang kalau pesanan batal.
Bagian terakhir itu yang jarang dipikirkan orang. Kalau kamu jualan baju dan pelanggan tidak membuka pintu, blusnya bisa kembali ke rak dan besok jadi milik orang lain. Tapi kalau kamu jualan rangkaian bunga dengan nama seseorang tertulis di pitanya, barang itu tidak bisa kembali ke mana-mana.
Karena itu, pertanyaan yang benar-benar menentukan bukan “cara bayar mana yang lebih baik?”. Melainkan: kalau pesanan ini gagal, siapa yang menanggung kerugiannya?
Mana yang cocok untukmu: bayar di tempat, transfer, atau kartu?
Bayar di tempat untuk barang umum yang kamu antar sendiri, transfer untuk nominal besar dengan pelanggan yang sudah kamu kenal, kartu untuk barang custom yang mengharuskanmu keluar modal duluan. Ada tiga hal yang menentukan: apakah kamu yang mengantar sendiri atau lewat jasa kirim, apakah pelanggan itu sudah pernah beli sebelumnya, dan apakah produknya barang umum atau dibuat khusus untuk orang itu.
Bayar di tempat — kalau kamu mengantar sendiri di kotamu dan produknya barang umum. Pesanan makanan, baju, sembako, alat tulis. Ini menurunkan hambatan bagi pelanggan baru yang belum yakin sama kamu, dan itulah nilai sesungguhnya: meyakinkan orang yang belum kenal kamu.
Transfer — kalau nominalnya besar dan pelangganmu sudah pernah beli. Tidak ada potongan sama sekali dan uangnya masuk utuh. Biayanya ada di tempat lain: harus ada orang yang mengecek rekening dan mengonfirmasi tiap pembayaran satu per satu. Kalau cuma lima transaksi sehari, masih santai; kalau lima puluh sehari, itu sudah jadi satu pekerjaan tersendiri.
Kartu — kalau pesanannya baru, custom, atau mengharuskanmu keluar modal sebelum mengantar. Di sini memang ada potongan persentase per transaksi, tapi kamu membayar komisi itu untuk mendapat sesuatu yang jelas: uangnya sudah ada sebelum kamu belanja bahan.
Mayra akhirnya punya satu aturan sederhana: bayar di tempat untuk buket-buket di etalase, kartu atau uang muka untuk semua yang pakai kartu ucapan.
Berapa sebenarnya biaya tiap cara bayar?
Komisi kartu itu kelihatan karena tercatat di laporan rekening. Biaya bayar di tempat tidak kelihatan, dan hampir selalu lebih besar.
Coba hitung dengan angkamu sendiri: kalau dari 10 pengiriman bayar di tempat ada satu yang gagal, pesanan yang hilang itu sudah memakan 10% dari total sepuluh penjualan — dan itu jauh lebih besar dari komisi kartu berapa pun. Jangan menebak-nebak: hitung berapa yang gagal bulan lalu. Kalau nol, berarti bayar di tempat sudah gratis buatmu dan jangan diubah. Kalau tiga dari dua puluh, sekarang kamu tahu pesanan mana yang harus dibayar duluan.
Transfer kelihatannya paling murah dari ketiganya, dan kadang memang benar. Tapi kalau kamu sampai mengecek pembayaran jam sebelas malam mencari bukti transfer di WhatsApp, waktu itu juga sebuah biaya, hanya saja kamu yang menanggungnya dan tidak tercatat di mana pun.
Bisakah saya menawarkan ketiga cara bayar di halaman yang sama?
Bisa, dan itu wajar. Di halaman Proyecta kamu, kamu bisa punya pembayaran kartu dan pembayaran offline sekaligus, dan pelanggan tinggal memilih saat checkout.
Pembayaran offline mencakup transfer, setor di minimarket, dan tunai bayar di tempat: kamu tinggal memublikasikan instruksinya dan pelanggan mengikuti pesanannya dari sana. Dan ini bagian pentingnya: pesanan offline tetap pesanan yang sah. Pesanan itu masuk ke panelmu berstatus menunggu pembayaran, lengkap dengan nama, alamat, dan apa yang dipesan, dan kamu tinggal menandainya sudah dibayar begitu uangnya masuk. Bukan email yang tercecer dan hilang di antara pesan-pesan lain.
Kalau kamu lebih suka menyelesaikan lewat WhatsApp, itu juga bisa: pesanan disusun otomatis dari halamannya dan pesan yang kamu terima sudah lengkap tertulis, tanpa pelanggan harus mendiktekannya sepotong-sepotong ke kamu.
Bagaimana kalau pelangganmu tidak mau bayar sebelum menerima barang?
Tawarkan dua-duanya dan biarkan dia yang memilih. Kebanyakan pelanggan baru mulai dengan bayar di tempat, dan setelah pembelian kedua atau ketiga, mereka bayar duluan tanpa kamu minta, karena mereka sudah tahu kamu memang benar-benar mengirim.
Yang tidak boleh kamu kompromikan adalah pekerjaan custom. Di situ kamu bukan sedang meminta kepercayaan, kamu sedang meminta seseorang menanggung bahan yang akan kamu beli hari ini. Uang muka setengah harga menyelesaikan itu, dan cukup dijelaskan dalam satu kalimat: “saya minta setengahnya dulu untuk beli bahan, sisanya waktu barangnya sudah diterima.” Tidak ada yang akan membantah kalimat itu, karena memang benar adanya.
Jelaskan dan publikasikan
Kalau kamu sudah tahu pesanan mana yang harus dibayar duluan dan mana yang bisa bayar di tempat, yang tinggal kurang adalah membuat halamanmu menyampaikan itu. Jelaskan saja apa adanya di Proyecta: “halaman untuk toko bunga saya dengan katalog rangkaian bunga, antar ke rumah, pembayaran kartu untuk pesanan custom dan bayar di tempat untuk yang di etalase.” Situsnya langsung terbit, lengkap dengan link-nya, dan kedua cara pembayaran itu langsung berfungsi.
Sebelum memutuskan, hitung dulu yang gagal
Buka daftar pesananmu bulan lalu dan pisahkan jadi dua kelompok: yang masih bisa dijual ulang dan yang tidak. Kelompok “tidak” itu persis yang harus kamu minta dibayar di muka. Sisanya boleh tetap bayar di tempat, dan kemungkinan besar itu justru yang mendatangkan pelanggan-pelanggan baru buatmu.
Kamu bisa mulai di proyecta.dev.